KETIKA ANGKA TAK LAGI SEPENUHNYA BERCERITA
TRANSISI SEMU KEBERHASILAN PEMBANGUNAN
Ketika Angka Tak Lagi Sepenuhnya Bercerita.
Mbah Atmo Kulonkali
Keberhasilan pembangunan kerap dibaca melalui angka. Data kemiskinan menurun, Indeks Pembangunan Manusia meningkat, nilai reformasi birokrasi membaik, dan berbagai indikator kinerja menunjukkan tren positif. Angka-angka ini penting sebagai alat ukur dan evaluasi. Namun persoalan muncul ketika angka dianggap telah selesai bercerita, seolah seluruh realitas sudah terwakili di dalamnya.
Di ruang hidup masyarakat, pengalaman pembangunan tidak selalu bergerak secepat grafik. Banyak warga yang secara statistik tidak lagi tercatat miskin, tetapi masih berada dalam kondisi rentan. Sedikit guncangan ekonomi saja dapat mengganggu keseimbangan hidup mereka. Layanan pendidikan dan kesehatan memang tersedia, namun kualitas dan pemerataannya belum sepenuhnya dirasakan. Dari jarak inilah muncul apa yang dapat disebut sebagai transisi semu keberhasilan pembangunan.
Transisi semu ini terjadi ketika capaian statistik menunjukkan kemajuan, sementara perubahan substantif dalam kehidupan sehari-hari berjalan lebih pelan atau belum sepenuhnya mengakar. Reformasi birokrasi memperoleh skor tinggi, tetapi prosedur pelayanan publik masih sering dikeluhkan. IPM meningkat, namun mutu layanan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan warga. Angka menjadi rapi dan tertib, sementara realitas menyimpan banyak catatan kecil.
Capaian-capaian tersebut kerap dirayakan sebagai prestasi. Namun pada saat yang sama, pernyataan para pejabat justru memperlihatkan kehati-hatian. Pendapatan daerah diakui sulit ditingkatkan, sumber ekonomi baru terbatas, sementara beban anggaran terus meningkat. Belanja rutin membesar, kewajiban bertambah, dan ruang fiskal kian menyempit. Optimisme dalam laporan berjalan berdampingan dengan kewaspadaan dalam memandang masa depan.
Paradoks ini menunjukkan bahwa sebenarnya ada kesadaran tentang jarak antara angka dan kenyataan. Indikator kinerja lalu berfungsi seperti etalase menenangkan karena terlihat baik, meski di baliknya masih banyak pekerjaan rumah. Selama grafik bergerak naik, persoalan struktural terasa belum mendesak.
Ironisnya, dalam keterbatasan tersebut, simpul-simpul ekonomi lokal belum sepenuhnya terbuka. Akses terhadap peluang usaha dan perputaran ekonomi masih terkonsentrasi, sehingga dampak pembangunan tidak selalu menyebar merata. Di sinilah transisi semu berisiko menjadi keadaan yang dinormalisasi, bukan fase yang disadari.
Karena itu, keberhasilan pembangunan seharusnya tidak berhenti pada capaian angka. Data perlu terus dibaca berdampingan dengan pengalaman nyata masyarakat. Angka bukan untuk disangkal, tetapi untuk diuji. Ketika angka dan realitas berjalan seiring, pembangunan menemukan maknanya. Namun ketika keduanya menjauh, dan pembangunan terjebak dalam transisi semu, di situlah kita perlu berhenti sejenak bukan untuk meragukan pembangunan, melainkan untuk memastikan ia benar-benar bergerak ke arah yang tepat.
What's Your Reaction?